Selasa, 26 April 2022

Baiti Jannati


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir” (QS. Ar Rum [31]: 21).

Pada ayat sebelumnya dijelaskan, Allah menciptakan manusia dari tanah, lalu dari padanya, manusia berkembangbiak melalui hubungan suami istri. Sebagai kelanjutan, ayat ini menjelaskan, bahwa hubungan pasangan itu harus dibangun dengan akhlak mulia menuju keluarga sakinah (tentram), mawaddah (cinta), dan rahmah (sayang).

Ada tiga akhlak utama yang harus diperhatikan untuk membangun “Baiti Jannati, Rumahku Surgaku.”

Pertama, komunikatif. Artinya, aktiflah berkomunikasi dengan Allah, orang tua, mertua, pasangan, dan putra-putri Anda. Ketika bangun tidur, sebelum menyapa siapa pun, sapalah Allah dengan berdoa, “Wahai Allah, terima kasih, Engkau masih berkenan memberi saya tambahan hidup, setelah tidur semalam. Saya akan berhati-hati dalam hidup, sebab saya pasti suatu saat kembali kepada-Mu.”  

Setiap pagi, berikan ciuman kasih untuk pasangan Anda, disertai doa dan ungkapan cinta. Misalnya, “I love you, barakallahu fik / aku mencintaimu, dan semoga berkah Allah terus tercurah untukmu.” Sapalah setiap hari kedua orang tua dan mertua Anda dengan salam dan ungkapan yang terindah, meskipun hanya melalui media komunikasi modern. Upayakan, jangan sampai Anda kedahuluan salam mereka. Jadilah anak atau menantu penyapa dan periang. Jangan jadi orang “bisu.” Semua itu pahala. Senyum orang tua adalah senyum Allah untuk Anda. Dan, ketahuilah, senyum mereka adalah modal untuk kesuksesan Anda. 

Perbanyak komunikasi dengan Allah melalui sujud malam hari untuk curhat apa pun. Jangan sekali-kali curhat kepada selain-Nya. Yakinlah, melalui sujud panjang, Allah akan mengambil alih penyelesaian semua masalah Anda.

Kedua, apresiatif. Artinya memperbanyak syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pasangan. Hindari kebiasaan mengeluh, sebab itu tanda keimanan yang keropos dan mental yang sakit. Hargailah setiap jasa sekecil apa pun pasangan Anda.

Ketika menikmati hidangan yang disiapkan istri, misalnya, katakan, “Wahai Allah, gantilah makanan dan minuman surga untuk istriku tercantik, yang menyiapkan hidangan ini. Berikan ia kebahagiaan, sebab, ia telah membahagiakan saya dengan penataan rumah, pakaian, dan hidangan yang luar biasa ini.”

Sebagai istri, Anda juga harus memberi apresiasi yang sama. Misalnya, “Wahai Allah, gantilah keringat suamiku yang tampan dan pekerja keras ini dengan mutiara-mutiara terindah di surga.” Allah sudah memberi jaminan keberkahan dan kebahagiaan, jika Anda apresiatif. “Jika kamu apresiatif kepada Allah dan semua orang, Kami akan menambah kualitas hidupmu.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Ketiga, selektif. Artinya, pilihlah kata terindah untuk pasangan Anda. Jangan asbun (asal bunyi), tanpa berfikir akibat negatif dari kata yang diucapkan. Orang bijak berkata, “Think today and speak tomorrow / berpikirlah sekarang, dan katakan besok.” Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Lidah orang cerdas di belakang hatinya, dan lidah orang bodoh di depan hatinya.” Artinya, hanya orang bodoh yang tidak selektif terhadap kata yang akan diucapkan.

Jangan pula aslan (asal telan) semua informasi. Anda harus selektif terhadap informasi negatif tentang pasangan Anda. Lakukan tabayun atau klarifikasi, apalagi pada era banjir informasi seperti sekarang ini. Wallahu'alam bishowab.

Disampaikan oleh : Bapak Suprapto | Kultum Ramadhan 1443 H
DKM Masjid Baitul Muttaqien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar